"eh hai, apa kabar? sombong yaa sekarang, ga pernah kabar-kabaran sama gua."
pernah nggak ketemu temen yang udah lama ga ketemu, terus si temen itu melontarkan kalimat sejenis di atas? pasti pernah dong, ya?
gua juga pernah. lumayan sering, bahkan.
semua temen lama kalo ketemu gua rata-rata ngomongnya begitu.
temen TK, SD, SMP, SMA, kebanyakan begitu.
terus gua mikir, sesombong apa sih gua sampe semua orang bilang gua sombong pas ketemu?
atau mungkin mulailah dengan pertanyaan ini: sombong itu apa sih?
jadi inget, waktu gua SD, gua sampe ngaku dosa gara-gara ada temen lama yang bilang gua sombong karena ga keep-in-touch.
kira-kira begini percakapan gua dan pastor di ruang pengakuan dosa
G: dosa-dosa saya ialah bla, bla, bla, bla, bla, sombong, bla, bla, dan bla. (dosa-dosa lain disamarkan demi menjaga privasi hahahahaha). atas dosa-dosa saya ini, saya mohon ampun dan meminta penitensi yang sesuai dengan dosa-dosa saya.
P: *mulai memberi nasehat* blablablablablablablabla.
G: *manggut-manggut*
P: *tetiba* Gabby, saya mau tanya. Sebenarnya sombong itu apa sih?
Duh pastor ini pake nanya segala lagi. gua tuh paling tertekan kalo lagi ngaku dosa. namanya juga manusia, malu lah atas dosa-dosa yang gua perbuat. rasanya setiap ngaku dosa tuh pengen cepet-cepet keluar ruangan, eh ini malah diajak ngobrol. Duh.
G: eh? ummm... apa ya?
P: kalo kamu ga tau sombong itu apa, kenapa kamu ngaku dosa kalo kamu sombong?
G: soalnya kata temen saya, saya sombong, pastor. terus kata guru saya, sombong itu termasuk 7 dosa pokok. jadi saya ngaku dosa kalo saya sombong.
P: memangnya kenapa temen kamu bilang kamu sombong?
G: soalnya saya udah lama gak ketemu temen saya. terus selama ga ketemu itu saya ga pernah nanya kabarnya.
si pastor terus ketawa kecil gitu. terus gua disuruh cari arti kata sombong nanti kalo udah keluar ruang pengakuan.
pas di rumah, gua langsung cari arti kata sombong. tertulislah dengan indah di KBBI:
som·bong (a) menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah
lalu muncul pertanyaan: emangnya kalo ga nanya kabar temen itu berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan?
i don't think so.
lucunya, yang biasa melontarkan kalimat tersebut justru temen yang ga deket sama kita.
iya, gua tau ini adalah salah satu bentuk basa-basi.
a very lame one.
lagian, kenapa gua doang yang dibilang sombong?
kalo kita udah lama ga keep in touch, berarti bukan salah gua sendiri dong, ya kan?
kita ga keep in touch karena masing-masing ga saling bertemu, ga saling bertegur sapa, ga saling menanyakan kabar.
kalo gua "sombong" karena ga keep in touch, then what about you?
instead of judging me, why don't we take the blame together?
Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts
Sunday, October 6, 2013
Thursday, September 26, 2013
Cici
Gua paaaaaaaling sebel dipanggil "cici". Iya, gua orang Cina, tapi gua merasa janggal kalo ada yang manggil gua "cici" selain adek gua atau sepupu-sepupu gua.
mungkin karena kebiasaan juga. dari kecil gua gapernah manggil cici/koko ke orang yang bukan keluarga, kecuali kalau mereka minta dipanggilnya begitu. but still, it makes me feel awkward....
gua sempet kaget juga semenjak kuliah, adek-adek kelas di kampus pada manggil gua 'cici" -..- yaa gabisa nyalahin mereka juga sih, mungkin mereka memang terbiasa manggil orang yang lebih tua dengan sebutan cici/koko.
yang lucu, temen gua yang sama sekali ga ada tampang oriental juga ikutan dipanggil 'cici' oleh adek kelas hahahhahahaha! dia curhat sambil kesel sendiri kenapa dia dipanggil cici padahal dia sama sekali ga berwajah oriental.
lalu tadi pagi gua tetiba mikir...sebenernya panggilan cici/koko itu ya sama aja kayak mbak/mas-nya Jawa atau mpok/abang-nya Betawi atau teteh/akang-nya Sunda atau yang lainnya. panggilan-panggilan itu adalah panggilan khas dari masing-masing etnis. artinya sama aja satu dengan yang lain.
kenapa temen gua ngeluh dipanggil cici tapi dia ga masalah kalo dipanggil mbak? dia sebel dipanggil cici karena dia bukan cina, tapi kenapa dia ga sebel dipanggil mbak sementara dia juga bukan orang jawa?
dan kenapa juga gua yang orang cina ikutan sebel kalo dipanggil cici?
people who read this post, don't bother to answer. these questions are just randomly appeared in my head while i took a dump this morning. Yes, i thought about these while i ngeden.
....
next question appear: why should i think about those things in the toilet?
mungkin karena kebiasaan juga. dari kecil gua gapernah manggil cici/koko ke orang yang bukan keluarga, kecuali kalau mereka minta dipanggilnya begitu. but still, it makes me feel awkward....
gua sempet kaget juga semenjak kuliah, adek-adek kelas di kampus pada manggil gua 'cici" -..- yaa gabisa nyalahin mereka juga sih, mungkin mereka memang terbiasa manggil orang yang lebih tua dengan sebutan cici/koko.
yang lucu, temen gua yang sama sekali ga ada tampang oriental juga ikutan dipanggil 'cici' oleh adek kelas hahahhahahaha! dia curhat sambil kesel sendiri kenapa dia dipanggil cici padahal dia sama sekali ga berwajah oriental.
lalu tadi pagi gua tetiba mikir...sebenernya panggilan cici/koko itu ya sama aja kayak mbak/mas-nya Jawa atau mpok/abang-nya Betawi atau teteh/akang-nya Sunda atau yang lainnya. panggilan-panggilan itu adalah panggilan khas dari masing-masing etnis. artinya sama aja satu dengan yang lain.
kenapa temen gua ngeluh dipanggil cici tapi dia ga masalah kalo dipanggil mbak? dia sebel dipanggil cici karena dia bukan cina, tapi kenapa dia ga sebel dipanggil mbak sementara dia juga bukan orang jawa?
dan kenapa juga gua yang orang cina ikutan sebel kalo dipanggil cici?
people who read this post, don't bother to answer. these questions are just randomly appeared in my head while i took a dump this morning. Yes, i thought about these while i ngeden.
....
next question appear: why should i think about those things in the toilet?
Thursday, February 28, 2013
Katanya
Gua termasuk orang yang merasa beruntung karena pas jaman gua masih kecil, musik anak-anak populer banget. Lagu anak-anak berkumandang di TV setiap jam 3 sore. Acara musik favorit gua adalah Cilukba dan penyanyi demenan gua adalah Trio Kwek-Kwek.
Melalui lagu-lagu Trio Kwek-Kwek, gua belajar banyak hal. Gua jadi tahu kalo gua ga boleh bikin mama marah, soalnya nanti uang jajan musnah, senyum pun tak ada. Gua pun jadi paham bahwa meskipun tanteku cerewet dan tukang ngomel, tapi baik hatinya. Dari ketiga idola ini pula gua punya cita-cita bisa naik bus sekolah yang warna kuning ituh (meskipun sampe sekarang belom kesampean. huffft.....)
Tapi dari lagu-lagu hits Trio Kwek-Kwek, yang paling iconic tentunya yaa lagu "Katanya".
Sebagai fan setia Trio Kwek-Kwek, gua tentunya hafal lagu ini. Liriknya sederhana banget, tapi sadar atau nggak, diam-diam lagu ini menumbuhkan rasa nasionalisme dalam jiwa gua yang masih muda pada waktu itu. Sebanyak apa pun kelebihan negara lain (Amrik yang Super Power, China yang penduduknya semilyar, Inggris yang punya raja dan ratu), tapi gua tetep bangga dengan Indonesia yang orangnya lucu-lucu dan ramah-ramah.
Yang perlu digarisbawahi, pas bagian lirik tentang Indonesia melodinya tuh beda. Dan nggak ada kata-kata "katanya" yang disisipkan, nggak kayak pas lirik negara lain. Jadi, penggambaran Indonesia itu bukan sekedar "katanya".
Dari dulu--dan mungkin sampe sekarang--gua percaya orang Indonesia itu lucu-lucu dan ramah-ramah.
Tapi tadi gua ikut kuliah Komunikasi Politik. Jujur, gua nggak terlalu merhatiin dosen ngomong apa. Gua bosen selama kuliah dan rasanya ngantuuuuk banget. Gua corat-coret buku catatan, gambar-gambar random, lalu kemudian gua denger dosen gua bilang, "Dulu, banyak orang asing yang bilang ke saya kalo orang Indonesia itu ramah-ramah."
JENG-JENG!!!
lalu tiba-tiba lagu "Katanya" berkumandang dalam pikiran gua. Saat gua sedang berusaha keras melawan godaan untuk nggak menyenandungkan lagu mega hits itu, gua denger dosen gua memberikan pertanyaan lanjutan akan pernyataan dia sebelumnya, "tapi kok sekarang orang Indonesia kayak bar-bar gitu ya?"
Bumi gonjang-ganjing, pikiran indah yang gua bina sejak kecil seketika goyah, sodara-sodara. Gua kembali menahan diri untuk tidak menyela si Bapak Dosen dan teriak, "Tapi Trio Kwek-Kwek bilang orang Indonesia lucu-lucu pak, ramah pula. Mereka bilang gitu pak, LEONY, DHEA, DAN ALFANDY BILANG GITU PAK!!!!!"
ehm.
Gua nggak menyampaikan kata hati gua ini. Gua taruh pensil yang dari tadi gua pake buat gambar-gambar ga jelas, lalu gua dengerin si bapak lanjut ngomong. Tapi dahi gua berkerut. Gua masih ga terima orang Indonesia dibilang bar-bar. Gua masih percaya kata Trio Kwek-Kwek.
Bapak dosen kemudian mulai memberi contoh tindakan bar-bar orang Indonesia. Copet yang ketangkep langsung digebukin sampe babak belur, bahkan ada yang sampe meninggal. Orang mau ibadah aja dipersulit, bahkan rumah ibadat dihancurkan. Afriani yang dihina habis-habisan, bahkan kalo dipikir lebih lanjut, saat dia selesai menjalani masa hukumannya, dia nggak bakal menjalani hidup yang sama karena hujatan-hujatan yang ditimpakan ke dia. I mean, iya dia salah karena telah membunuh banyak orang (disengaja ataupun tidak), tapi hidup dia mungkin gak akan bisa tenang lagi. Cap pengemudi maut udah melekat dan orang-orang se-Indonesia tau itu. Kebayang ngga sih kondisi psikologisnya kayak gimana?
Kenapa sih orang Indonesia kelakuannya kayak gitu?
Ke mana perginya orang yang lucu-lucu dan ramah-ramah?
Lalu ada seorang teman di kelas yang menanggapi. Gua lupa persisnya dia ngomongnya gimana, pokoknya intinya kelakuan masyarakat yang sekarang ini dibilang bar-bar adalah bentuk kekecewaan akan sistem yang ada di negeri ini. Khususnya sistem hukum.
Alis gua yang semula menukik ke bawah pelan berubah jadi naik, tanda gua lagi mencermati pernyataan teman ini.
Vonis ringan untuk para penjahat besar udah sering kejadian. Udah vonis ringan, fasilitas penjaranya mewah pula: ada TV, AC, kasur empuk, bisa karaoke, keluarga bebas berkunjung. Hukuman sekarang sih bukan dipenjara namanya, tapi dikurung doang.
Jadi, masyarakat yang kecewa punya caranya sendiri untuk menghukum. Karena merasa vonis pengadilan masih kurang, penjahat-penjahat itu perlu dihukum lebih lanjut. Salah satunya ya dengan cap-cap tertentu, seperti kasusnya Afriani.
Pertanyaannya: Sampai kapan kita akan terus kecewa? Apakah hukuman masyarakat itu perlu sampai hidup seseorang "hilang"? Bisakah masyarakat Indonesia kembali menjadi orang-orang yang lucu-lucu dan ramah-ramah?
Saat ini ketika gua mengetik, lagu "Katanya" maha dahsyat itu masih terngiang-ngingang dalam pikiran gua.
Cuma......
melodinya sudah berganti.....
Indonesia negeriku (katanya, katanya)
Orangnya lucu-lucu (katanya, katanya)
Indonesia negeriku (katanya, katanya)
Orangnya ramah-ramah (katanya, katanya)
Subscribe to:
Posts (Atom)